Jumat, 01 Oktober 2010

“Rima Ababil”


“Rima Ababil”
      By : Homicide

      karena khalayak tak pernah salah memuja thagut penampakan
      maka kalian adalah terdakwa yang terlalu mendambakan
      domba tanpa gembala, wujud tanpa kepala, dunia tanpa pandawa
      sumpah aral kuasa tanpa palapa
      merakit dunia tanpa manual tunggal
      mengepal surga neraka yang manunggal
      di ujung hari yang berlangit sepekat aspal
      di petang para dajjal neoliberal meminta tumbal
      karena buku sejarah ditulis dengan darah
      dengan anggur dan nanah, dengan kotbah dan sampah
      maka argumen terlahir dari kerongkongan korban
      digorok dipagi buta di lapangan pedesaan
      dikubur bernafas dimalam semua kutukan
      menaruh rima diatas hitungan ritme pukulan rotan Brimob
      pengganti aroma Smirnoff, berakhir
      layak hasrat Deborg berepilog tanpa akhir
      kombinasi mutakhir para gerilyawan Kashmir,
      Tolstoy dan B-boy yang menari diatas pasir
      hingga para aparat Gomorrah tak berdiri tanpa dipapah
      hingga berhala yang kau sembah merata dengan tanah
      dengan khasanah busur serapah tanpa panah
      dengan ranah yang merubah kotbah yang menjadi limbah
      dengan lanskap penuh kesumat, despot melaknat
      penuh bigot yang bersandar pada jaminan polis dan jimat
      maka kupinang kepalan pelumat
      tirani valas yang tak pernah tamat memplagiat kiamat
      hingga liang lahat, dengan eskalasi perang badar
      membakar akar penyeragaman bawah sadar
      pasca kolonial pasca neraka horizontal
      pasca bumi dan langit, aku dan kau menjadi wadal
      sejak para kaisar merapal mantra anti-makar
      sejak para patriot tak pernah sadar menjadi barbar

      rima ini ku rancang untuk menantang mitos
      hegemoni rezim dewa logos
      ku rancang rima ababil yang bidani holokos
      jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos

      antitesa dari semua petuah para tetua
      penguasa gua, gabah dan semua kutukan tak bertuah
      rima ini adalah hitam merah tetesan darah
      pemusnah lintah bendungan siklus hasrat dan amarah
      ludah para penadah gejah yang menawar bid’ah
      yang lupa melawan titah, kerajaan risalah,
      pemungut arwah peluluh lantah kaki tangan kepala berhala yang ku nujum punah
      serupa jalur ziarah satuan batalyon lakon
      yang membantahkan konon gurita monitor panoptikon
      dan jargon perluasan koloni kanon
      perpanjangan netra Mossad dan agenda titipan Pentagon
      agen intelejen berbisik dalam dialek dekaden
      berdiskusi tentang ribuan ancaman bahaya laten
      lumpen yang membangkang, hedonis yang mencoba terbang
      sufi yang menjangkau terang dan anarkis yang merontakekang
      rima ini adalah kontra komando, menolak berkarat
      di pengujung tengat m’rancang beliung serupa tornado
      untuk balans yang banal, balada dalam kanal dialog satu arah sejarah yang berkoar bertemu final
      hingga satu subuh para sayap terentang, menantang menara rutan dengan kesadaran para pecundang
      berembuk di pojokan selokan desa dan urban merakit plot armamen ababil sebelum mentari datang
      sebelum cenayang industri keluar mencari mangsa
      menuai bara dari pusara kalam dan makam wacana
      kesucian taklid yang menyuburkan bencana
      para penikam punggung dan para pengkhianat lantai dansa
      pasca kolonial pasca neraka horizontal
      pasca bumi dan langit, aku dan kau menjadi tumbal
      sejak argumen hanya berkisar di pusaran selasar
      surga dan neraka, kontol, isu kelentit dan biji zakar, yo

      rima ini ku rancang untuk menantang mitos
      hegemoni rezim dewa logos
      ku rancang rima ababil yang bidani holokos
      jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar