Tampilkan postingan dengan label Lagu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lagu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

Rawikara : Syair Anak Bangsa


Rawikara : Negriku


Rawikara : Kidung Buniwangi


Rajah Rawikara(Sulawesi)


Rajah Rawikara(Ternate)


Rajah Rawikara(Jawa Barat)


Indonesia Raya versi lengkap

Lagu ini merupakan do'a kita untuk Nusantara Indonesia


Jumat, 01 Oktober 2010

“BARISAN NISAN”


“BARISAN NISAN”
By. Homicide

Matahari terlalu pagi mengkhianati
Pena terlalu cepat terbakar
Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan
pada ruang ketidak-mungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun
sudut kemungkinan untuk berkata “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
Sebelum mata pena berkarat menolak kembali terisi
Sebelum semua paru disesaki tragedi
dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
dalam pasar dan semerbak deodorant
atau mungkin dalam limbah dan kotoran
atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
atau mungkin dalam pembebasan ala monitor 14 inci
yang menawarkan hasrat pembangkangan ala Levi’s dan Nokia
atau dalam 666 halaman hikayat para bigot dan despot
yang menari ketika jelaga zarkot berangsur menjadi kepulan hitam
berselubung Michael Jordan di pojokan pabrik-pabrik ma’lun para
produsen kerak neraka berlapis statistik
Pembenaran teatrikal super-mall
Opera sabun panitia penyusun undang-undang pemilu
yang mencoba membanyol tentang kekonyolan demokrasi
yang rapi berdasi menopengi mutilasi pembebasan dengan sengkarut argumen basi
tentang bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri di hadapan seonggok tinja
para sosok pembaharu dunia bernama PASAR BEBAS dan perdagangan yang adil
untuk kemudian memperlakukan hidup seperti AKABRI dan dikebiri matahari
terlalu pagi mengkhianati
dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi dan fiksi berpagar konstitusi
menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga
bernama Arjuna dan Manusia Laba-laba
pahlawan dari Cobain hingga Visius
dari berhala hingga anonimous bernama Burung Garuda Pancasila
yang menampakkan diri pada hari setiap situs menjadi sepejal bebatuan yang melayang
pada poros yang sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Firaun berkhakis
yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar posisi setiap pojokan
bahkan di kakus umum dan selokan mencari target konsumen dan homogenisasi kelayakan
Maka setiap angka menjadi maka dan makna
ketika kita disuguhi setiap statistik dan moncong senjata dengan ribuan unit SSK
untuk menjaga stabilitas bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku Panton sebagai panduan kebenaran
Sejak hitam dan putih hanya berlaku di hadapan mata sinar xerox
menolak terasuki setan dan tuhan yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon
degungan Big Mac dan es krim cone yang berseru,
“Beli! Beli! Beli! Konsumsi, konsumsi kami sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!”
Oh… betapa menariknya dunia yang sudah pasti
menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi
dengan janji pahala bertubi
dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham
dan dengan semantik-semantik kekuasaan yang hanya berarti dalam kala
ketika periode berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi
dan kekuatan hanya berlaku paska konsumsi cairan suplemen, tonik dan para biggot bertemu kawanan
dan cinta hanya akan berlabuh setelah melewati sederatan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau, hitam, kuning, biru, merah, putih dan biru
dan merah
dan putih
Oh betapa indahnya dunia yang berkalang fajar poin-poin NAFTA
sehingga pion-pion negara yang berkubang di belakang pembenaran stabilisasi nasional
menemukan pembenaran evolusi mereka dengan berpetakan saluran-saluran pencerahan
para rock-stars yang lelah berkeluh-kesah
kala peluh mengering kasat di hadapan pasanggiri lalat telat pasar
dan kilauan refleksi etalase dan display berhala-berhala
berskala lebih taghut dari ampas neraka diantara robekan surat rekomendasi negara donor
perancang undang-undang dan fakta-fakta anti-teror
para arsitek bahasa penaklukan para pengagung kebebasan
kebebasan yang hanya berlaku di hadapan layar flatron kemajemukan ponsel demokrasi kotak suara dan pluralisme gedung rubuh
Oh betapa agungnya dunia di hadapan barisan nisan yang dikebiri matahari
dan terlalu pagi mengkhianati

Maka jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini
wahai rotasi CD dan seperangkat boombox ringkih
jangan izinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan
wahai bentangan seluloid dan narasi
dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu anakku,
jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini
demi setiap huruf pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, Zahraku, mentariku!
Jangan sedetik pun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus
lelap tertidur tanpa satu mata membuta tanpa pagi berhenti mensponsori keinginan berbisa
tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan
bintang dan sabit
palu dan arit
bumi dan langit
lautan dan parit
dan sayap dan rakit
sehingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar
memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan
untuk berkata, “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi
Matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati..

“Siti Jenar Cypher Drive”


“Siti Jenar Cypher Drive”
      By : Homicide

      Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
      Bahwa di atas langit masih terdapat lapisan langit
      Bahwa di atas langit masih terdapat berlapis surga tak berujung lapis
      Sehingga semua makna hirarki langit hanyalah persepsi muka bumi

      Aku katakan sabda batu kepada api
      Di bawah tanah masih terdapat dataran tak berpijak
      Di bawah tanah masih terdapat berlapis–lapis kerak neraka
      Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta

      Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
      Perihal bentangan kalam puputan yang lahir pasca rubuhnya dua menara
      Pasca sebuah akhir zaman yang mengawali pancaroba tanah dan angkasa
      Kala semua ujung senjakala pembangkangan ini bermuara

      Aku katakan sebuah sabda raja batu kepada lidah-lidah api
      Bahwa ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa
      Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala
      Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka

      Aku katakan sabda batu kepada api
      Perihal makna wahdatul wujud mengusung kebesaran nama semesta
      Dimana pada setiap hembusan nafas, kami bersenyawa
      Kami yang tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

      Kami yang tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka
      Kami pula yang dapat menghadirkan keduanya bersenyawa di atas surga dunia
      Tak ada tuan, tak ada hamba
      Kehampaan ini bernyawa

      Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
      Perihal riwayat hidup yang menggenang dibawah bendera klaim kebenaran
      Perihal jemaat yang merasa jumawa saat merasa
      Memiliki jejak riwayat kuasa yang meminta patuh semua nyawa

      Aku katakan kepada kalian kutukan batu kepada api
      Perihal sebuah kuasa yang berfana taklid pada kebenaran ala massifikasi
      Perihal tuhan jejadian kontra kehidupan perihal datangnya kala
      Mereka yang telah keluar dari sarang-sarang mereka
      Dari pintu-pintu pabrik
      Dari gerbang-gerbang korporasi
      Dari jendela gedung-gedung parlemen
      Mendatangi pintu-pintu rumah kalian
      Menumbalkan semua masa depan keturunan kalian

      Perihal tuhan jejadian kontra kehidupan perihal datangnya kala
      Mereka yang keluar dari sarang-sarang mereka

      Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
      Bahwa di atas langit sana masih terdapat berlapis surga tak berujung lapis
      Sehingga semua makna hirarki langit hanyalah persepsi muka bumi
      Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta

      Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
      Semua ujung senjakala pembangkangan ini bermuara
      Pasca sebuah akhir zaman yang mengawali pancaroba tanah dan angkasa
      Sabda batu kepada api
      Api kepada kaki kaki langit

      Manunggaling kawula gusti mengusung Anok
      Tanah ini berbisik perihal suaka pada kekosongan strata
      Tak ada tuan, tak ada hamba
      Ada adalah tiada, dan kehampaan ini bernyawa

“Membaca Gejala Dari Jelaga”


“Membaca Gejala Dari Jelaga”
      By : Homicide

      Matahari terlalu pagi mengkhianati
      Pena terlalu cepat terbakar
      Kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
      Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk kemungkinan untuk berkata tidak mungkin
      Tanpa darah mereka mengering
      Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

      Sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri dalam pasar dan semerbak deodoran
      Atau mungkin dalam limbah dan kotoran
      Atau mungkin dalam seragam sederetan nisan

      Kita pernah bernazar
      Untuk menantang awan
      Menantang langit dengan kalam-kalam terhunus
      Hingga hari-hari penghabisan
      Tanpa pretense apapun untuk mengharapkan surga dan neraka
      Di atas semua…

      Kita berangkat dengan rima dan kopi secawan
      Berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
      Kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
      Dimana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
      Mengkafani kawanan serupa lalat dari pusat pembuangan sampah
      Menyisakan potongan kalimat profane berceceran
      Bernazar membuat tiran berjatuhan dengan luka sayat dari medan puputan
      Kita tantang kutukan, kita kutuk pantangan
      Sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
      Serupa komando yang keluar dari mabes hingga koramil
      Serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
      Menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
      Pada pantai, pada bumi, yang penuhi oleh barcode dan kasir
      Yang menghibahkan filsafat pada vampire
      Pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
      Pada mereka yang datang pada malam terkelam
      Saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
      Kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
      Pikulan beban yang serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari

      Dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
      Bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
      Bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
      Bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
      Dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
      Sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
      Kau dan aku tahu pahlawan tidak lagi datang dari kurusetra
      Namun dalam bentuk dominasi mie instant di tengah bencana
      Sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
      Sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
      Sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
      Sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
      Telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
      Semua melihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
      Kita belajar membaca gejala dari jelaga
      Pada malam-malam terhunus dan waras-waras kita terjaga
      Memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
      Menahan pitam tanpa riak serupa telaga
      Serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
      Pada setengah hidup kita mengalir mencari muara
      Serupa udara
      Membutuhkan amis darah agar sirine tetap mengalun
      Agar waras diingatkan wabah yang akut menahun
      Tentang pagut yang santun
      Yang memusuhi pantun
      Yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
      Mungkin kau akan ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
      Waktu singkat berubah menjadi rahmat
      Merubah alam alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
      Sekarang mengubahmu kasat di depan deretan kalimat
      Bergabung dengan para mata yang terang bersama pekat

      Serupa kepastian, serupa asuransi
      Serupa janji yang memprediksi dimana kau suatu hari nanti dengan pasti
      Sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati
      Sehingga rimaku hari ini dan terompet israfil dapat bertukar posisi
      Dan menantang mentari

“Tantang Tirani”


“Tantang Tirani”
      By : Homicide

      [Spoken]
      Ini adalah monumen tengat kesabaran dan angkara
      Satu barisan, ribuan mimpi
      Titik berangkat yang tak pernah dapat kami datangi kembali
      Terbuang serupa fotokopian pamflet aksi di setiap perempatan
      Harapan kami akan berakumulasi menyaingi nyalak senapan kalian!
      Kami merayap dalam lamat menyaingi hantu-hantu pesakitan
      Hingga waktu kalian mencapai tengat…

      Titipan angkara mereka yang tak bisa lagi bersuara
      Ini muara seluruh murka lawas yang kehilangan nyawa
      Dalam hitungan langkah kami akan isi angkasa
      Dengan ribuan pekik yang sama saat kalian terbakar bersama bara
      Terlalu kentara manuver mereka memplot penjara
      Hukum, moral, kebebasan, batas surga dan neraka
      Merancang kontrol bawah sadar serupa bius pariwara
      Menjagai setiap inci palang pintu modal dengan tentara
      Sebelum waktu yang banal jumud berkanal
      Semua momen heroik yang tak pernah tercatat dalam tanggal
      Biarkan mereka lafaz semua peringatan yang mereka hafal
      Setiap ayat pasal karet pertahanan para tiran berpangkal
      Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
      Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran
      Saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan di tengah medan
      Kawan, mana kepalan kalian?!

      [Chorus]
      Serupa biksu Burma di hadapan moncong senapan
      Serupa malam Januari yang menandai Chiapas
      Serupa seruan Chavez di depan muka Amerika
      Serupa tangan Intifadha yang melempar batu di Palestina
      Serupa siklus ronta kota pasca Genoa
      Serupa rudal Hizbullah di daerah pendudukan
      Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan

      Kami menolak menjadi bidak, sekedar sekrup dan tumbal
      Target pemasaran sampah industri kapitalis global
      Sekedar hidup lurus dalam dikte penguasa arus
      Sekedar kalian tahu kami akan bertahan sampai mampus
      Kalian awetkan hegemoni dengan balsam mumi anti-teror
      Kombinasi intel dan preman menebar horor
      Kalian kerangkeng kami dengan pembenaran semantik
      Kami rancang kalam puitik yang lebih bersenjata dari ribuan manifesto politik
      Kaya semakin kaya, miskin semakin papa
      Kalian dapat berlindung di balik ocehan nasib dan samsara
      Lakukan apapun termasuk menjadi tuhan
      Kami akan berdiri di sini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan
      Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
      Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran
      Saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan di tengah medan
      Kawan, mana kepalan kalian?!

      [Chorus]
      Serupa kesabaran terakhir para buruh di palang pintu pabrik
      Serupa panen terakhir para petani penggarap
      Serupa tengat miskin kota di ujung penggusuran
      Serupa pilihan terakhir Pasifis di hadapan ancaman pasar
      Serupa harapan mereka yang tak bisa lagi berharap
      Serupa pilihan terakhir keluarga korban kekerasan negara
      Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan

      [Spoken II]
      Kami akan bangun kembali godam dari reruntuhan dan berangkal harapan
      Keyakinan yang menyaingi semua manual langitan
      Esok akan terlalu terlambat, hari ini atau tidak sama sekali!
      Meski kalian coba bunuh kami berkali, kami akan lahir berkali bergenerasi
      Harapan meski sebutir pasir di lautan yang menyapa setiap kawan
      Dan menagih setiap jemari yang pernah menjanjikan kepalan
      Untuk menggetarkan nyali para tiran!

      [Soundclip dari orasi di lapangan]
      Kawan-kawan, dengarkan kawan-kawan!
      Komando ada di tangan saya, jangan terpancing provokasi!
      Kawan-kawan, tunjukkan pada mereka kita tak akan bergeming hari ini, kawan-kawan!
      Komando ada di tangan saya. Satu langkah untuk pembebasan!
      Hitung mundur dari sekarang!!