Menjadi Avatar Indonesia
Oleh Radhar Panca Dahana
Kita memang harus sungguh-sungguh meninjau kembali sejarah negeri ini. Semua buku sejarah resmi yang saat ini berlaku sudah selayaknya dimasukkan dalam peti dan dikunci untuk selamanya, atau sama sekali dihanguskan. Karena memang ia tidak berhasil sama sekali menggambarkan realitas historis dari riwayat bangsa –serta adab dan kebudayaannya—yang sesungguhnya pernah ada.
Sejarah kita saat ini, tidak hanya sangat terbatas data-data yang dimilikinya. Lebih memrihatinkan, data-data utamanya tidak lagi dimiliki oleh brankas atau laci-laci kepustakaan local, namun tersebar di berbagai pusat dokumentasi berbagai kota utama dunia. Sehingga tak dapat dihindari kemungkinan terjadinya seleksi, pemilahan, hingga penafsiran data yang didorong oleh kepentingan masing-masing negara pemilik data-data itu.
Sedikit hal itu saja sudah memperlihatkan bagaimana sebenarnya sejarah kita sendiri ternyata lebih banyak ditentukan oleh data, bacaan, analisis dan penafsiran ahli-ahli di luar kita. Betapa banyak sejarawan, dari negeri-negeri Timur dan Barat, yang begitu menentukan isyu atau diskursus sejarah negeri ini, hingga sekarang. Hingga pada pengaruhnya yang tidak kecil pada cara kita menentukan sistem dan cara kita berpolitik, berekonomi atau berhukum.
Pada sisi internal, kita mengenal sejarah diri sendiri melalui sebuah modus yang penuh dengan ambiguitas bahkan kegelapan: mitologi. Kita tidak tahu, sampai hari ini, siapa sebenarnya Wali Sanga, siapa sebenarnya tokoh Syekh Siti Jenar itu, kapan sesungguhnya Islam masuk negeri ini, apa dan bagaimana Sriwijaya itu, siapa itu Ajisaka atau Kian Santang, dan banyak lainnya.
Sementara ....