( Lanjutan KALA SUNDA. Oleh Ali Sastramidjaja )
Lingga adalah batu panjang yang diberdirikan secara kuat, agar tidak berubah posisinya. Dan untuk mengamankannya dijadikan benda sacral, sehingga tak ada yang menyentuhnya. Tiap tengah hari, bayangan lingga yang mengarah ke selatan atau ke utara diperhatikan, lalu diukur panjangnya dengan sebuah lidi. Lidi ini dipotong sama panjang dengan panjangnya bayangan lingga. Lalu direkatkan pada sebilah papan. Arah lidi disamakan dengan arah bayangan lingga. Esoknya dilakukan lagi, dan lidinya direkatkan di samping yang pertama. Pekerjaan ini dilakukan tiap hari.
Dimuali dengan bayangan lingga mengarah ke utara yang terpanjang. Tiap hari lidi itu makin pendek, sampai tak ada bayangan di utara atau di selatan artinya matahari berada tepat di atas lingga. Hari berikutnya bayangan mulai nampak di selatan. Tambah hari tambah panjang. Lalu hari-hari berikutnya bayangan lingga itu memendek hingga tak ada bayangan lagi. Selanjutnya arah bayangan ke utara lagi sampai panjangnya sama dengan yang terpanjang lagi. Pekerjaan tetap dilakukan, dan terus dikerjakan tiap tengah hari.
Setelah melekat 365 lidi pada papan, terlihat bentuk bayangan harian selama 365 hari, ialah merupakan bentuk garis sinusiode. Bila dilanjutkan akan berbentuk gelombang. Sebuah gelombang baru terbentuk setelah 365 hari, atau sama dengan bumi mengelilingi matahari satu kali. Waktu yang sekian lama itu disebut satu tahun. Karena mengelilingi matahari atau surya maka disebut satu tahun surya.
Penelitian dilakukan berulang-ulang, sampai akhirnya dapat diputuskan :
Aturan pertama :